Budaya akademik merupakan fondasi penting dalam mewujudkan kualitas pendidikan tinggi yang unggul, kompetitif, serta berkarakter pesantren. Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Hasan Jufri Bawean menempatkan penguatan budaya akademik sebagai prioritas strategis guna menciptakan lingkungan ilmiah yang kondusif, produktif, dan berkesinambungan. Seluruh upaya ini diarahkan untuk mendukung pencapaian visi fakultas, yaitu “Menjadi fakultas yang unggul dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk mencetak sarjana pendidikan yang berjiwa edupreneur dan berkarakter pesantren tahun 2045.”
Pertama, penguatan tradisi intelektual dilakukan melalui penyelenggaraan forum ilmiah secara rutin, seperti seminar, kuliah umum, bedah buku, dan diskusi tematik. Kegiatan ini membentuk mahasiswa dan dosen agar terbiasa berpikir kritis, kreatif, serta terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, atmosfer akademik yang lahir tidak hanya menumbuhkan keilmuan, tetapi juga membekali mahasiswa dengan wawasan kewirausahaan pendidikan (edupreneurship) yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Kedua, optimalisasi penelitian dan publikasi ilmiah dosen maupun mahasiswa menjadi langkah strategis. Fakultas mendorong terbentuknya kelompok riset (research group), program pendampingan penulisan karya ilmiah, serta publikasi di jurnal bereputasi. Hal ini sekaligus mendukung penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi pada aspek penelitian, serta menumbuhkan budaya ilmiah yang dapat melahirkan inovasi pendidikan yang berdaya saing.
Ketiga, pengembangan literasi akademik dilaksanakan melalui penguatan perpustakaan dan pemanfaatan akses digital. Penyediaan koleksi terbaru, akses jurnal ilmiah, serta pelatihan literasi informasi mendukung mahasiswa dan dosen dalam menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas. Selain itu, budaya membaca yang ditekankan dalam kegiatan akademik sejalan dengan nilai keilmuan yang menjadi ciri khas pesantren, yakni memperdalam ilmu secara istiqamah.
Keempat, penegakan kedisiplinan dan integritas akademik menjadi fokus utama. Fakultas membudayakan sikap tepat waktu dalam kegiatan akademik, menjunjung tinggi kejujuran, serta menegakkan kode etik anti-plagiarisme. Upaya ini tidak hanya menjaga kualitas akademik, tetapi juga menanamkan nilai moral dan akhlak yang sejalan dengan karakter pesantren.
Kelima, sistem pembimbingan akademik diperkuat melalui peran dosen pembimbing sebagai teladan intelektual, spiritual, dan moral. Pendekatan mentoring yang berkelanjutan membantu mahasiswa mengembangkan potensi diri secara terarah, sekaligus menanamkan etos kerja, kemandirian, dan jiwa kepemimpinan. Hal ini mendukung terbentuknya lulusan yang berkarakter kuat dan berorientasi pada edupreneurship.
Keenam, Fakultas Tarbiyah menjalin kolaborasi eksternal dengan sekolah, madrasah, pesantren, lembaga riset, dan perguruan tinggi. Kolaborasi ini tidak hanya memperluas jejaring akademik, tetapi juga menghadirkan ruang aktualisasi bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas, kewirausahaan pendidikan, serta mengintegrasikan nilai-nilai pesantren dalam praktik lapangan.
Ketujuh, pemanfaatan teknologi digital dioptimalkan untuk memperkuat budaya akademik yang modern dan adaptif. Melalui Learning Management System (LMS), forum diskusi daring, serta repositori karya ilmiah, Fakultas memastikan keterjangkauan akses pembelajaran sekaligus mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan era digital. Teknologi ini juga menjadi sarana inovasi dalam menumbuhkan jiwa edupreneur di bidang pendidikan.
Kedelapan, penghargaan terhadap prestasi akademik diberikan kepada mahasiswa dan dosen yang menunjukkan capaian unggul. Apresiasi berupa beasiswa, penghargaan karya terbaik, atau kesempatan mengikuti konferensi ilmiah dimaksudkan untuk menumbuhkan motivasi dan membangun kultur kompetitif yang sehat di lingkungan fakultas.
Kesembilan, seluruh aktivitas akademik diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam dan tradisi pesantren. Dengan menekankan aspek spiritualitas, akhlak, dan adab ilmiah, Fakultas Tarbiyah menegaskan bahwa budaya akademik yang dibangun tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademis, tetapi juga pada pembentukan karakter Islami yang berakar pada tradisi keilmuan pesantren.
Dengan implementasi langkah-langkah tersebut, Fakultas Tarbiyah IAI Hasan Jufri Bawean berkomitmen untuk menjadikan budaya akademik sebagai instrumen utama dalam mewujudkan visi 2045. Melalui sinergi antara penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, jiwa edupreneurship, serta karakter pesantren, Fakultas diharapkan mampu melahirkan sarjana pendidikan Islam yang unggul, kompetitif, dan berdaya saing global.





